Minggu, 18 Januari 2015




Commercial Break :)

Sesaat
“Anya, bangun! Sudah jam 05.00! Nanti kamu kesiangan. Ayo, bangunlah!”. “Iya, Mama, Anya bangun”. “Yasudah, cepat mandi, lalu sarapan. Cepat, ya!”
            Namaku Anya Anindya Anggraini. Hari ini adalah hari pertamaku sebagai siswa Sekolah Menengah Akhir, wajar jika mama membangunkanku dengan penuh semangat.
            Setelah sarapan, aku diantar ayah ke sekolah baruku. Selama perjalanan, aku berdoa agar aku dapat cepat menyesuaikan diri dengan lingkungan baru. Hmmh.. tak mudah bagiku menyesuaikan diri dengan lingkungan baru. Aku sulit sekali peka akan sesuatu dan jarang memperhatikan apa yang terjadi di lingkungan sekitarku.
            Sesampainya di sekolah…
            “Hati-hati, ya, Anya. Nanti kalau pulang, langsung telepon mama, ya”. “Iya, Ayah. Aku masuk dulu, ya, Yah. Assalamualaikum” salamku pada Ayah. “Bismillahirrahmanirrahim..” ujarku dalam hati saat berjalan di pinggir lapangan, menuju ruang kelas.
            “Aduuuuuuuuhhh” teriakku saat sebuah bola menyambarku. “Maaf maaf maaf, ya, maaf, saya ngga sengaja. Perlu ke UKS?” ujar seorang laki-laki dengan cemas. “Iya, Kak, ngga papa. Ngga perlu, kak. Makasi” balasku sembari berdiri melanjutkan langkah menuju kelasku.
            Sesampainya di kelas...
            “Aku disini, ya?” tanyaku menunjuk bangku yang kosong di deret kedua baris pertama setelah pintu masuk. “Tentu, silahkan”. “Siapa namamu?” tanyaku. “Nabila, namamu?”. “Namaku Anya” jawabku.
            Saat istirahat, aku dan Nabila langsung menuju kantin. “Kamu yang tadi kena bola, ya?” tanya laki-laki yang menyambarku dengan tendangannya tadi. “Iya, kak, masih inget aja”  ujarku sambil tertawa kecil. “Saya minta maaf, ya, ngga sengaja tadi, serius, deh”. “Iya, kak, ngga papa kok” jawabku. “Nama kamu siapa?” tanyanya lagi. “Nama saya Anya. Kakak ?”. “Nama saya Rendi”. “Saya jajan dulu, ya, Kak” ucapku. “Oh, iya, laper, ya?” candanya. “Tau aja, Kak” ujarku sambil tertawa.
              Esoknya, pemilihan ekskul untuk seluruh siswa baru. Sejak awal, aku sudah berencana mengikuti kegiatan rohani islam di sekolahku.
            Kegiatan ROHIS atau Rohani Islam di sekolahku bertempat di masjid sekolah. Kebetulan, Nabila juga ingin mengikuti kegiatan Rohani Islam. Aku dan Nabila langsung menuju masjid untuk mengikuti kegiatan ekskul. Kegiatan ekskul dibuka dengan perkenalan.
            “Saya Anya Anindya Anggraini. Saya dari kelas X.1. Saya memilih ekskul ini karena… ”. “Assalamualaikum, maaf saya telat” ucap seseorang memotong perkenalanku. Aku terkejut saat melihatnya. Ya, yang memotong pembicaraanku itu kak Rendi. Kemudian, aku melanjutkan perkenalanku setelah kak Rendi masuk.
            Kegiatan berlangsung 2 jam. “Ternyata Kak Rendi ekskulnya ROHIS” ujarku saat memakai sepatu berhadapan dengan Kak Rendi di depan masjid. “Iya. Kita ketemu terus, ya. Sampai bosan melihat kamu” canda Kak Rendi sambil tertririn. “Oh, iya, Kakak kelas berapa ?” tanyaku. “Saya kelas XI. 7” jawab Kak Rendi dengan singkat.
            Semenjak saat itu, aku dan Kak Rendi menjadi sahabat karib. Semua kejadian yang terjadi pada Kak Rendi, aku pasti mengetahuinya. Begitupun sebaliknya. Hari – hariku diwarnai dengan curhatan lucu kak Rendi. Kak Rendi sangatlah humoris, namun orang yang belum mengenalnya dengan baik pasti akan mengira kalau ia cuek, dingin, dan pendiam.
            Hari demi hari kulalui sebagai siswa SMA. Hari demi hari pula aku jalani bersama sahabat – sahabatku, termasuk Kak Rendi. Sebenarnya, aku merasakan hal berbeda ketika berada di dekat Kak Rendi. Aku senang menjadi sahabatnya, namun ada rasa lain. Rasa yang belum pernah aku rasakan. “Sepertinya aku menyukai kak Rendi. Tapi… Apakah ia merasakan hal yang sama padaku? Bagaimana kalau tidak? Mengapa ia sangat perhatian padaku? Mengapa sejak awal kita bertemu, ia sudah sangat ramah padaku? Padahal ia sangat cuek pada orang yang belum mengenalnya dengan baik…” gumamku dalam hati saat menuju kantin bersama Nabila.
            “Jangan mikirin kak Rendi terus, dong. Aku dicuekin dari tadi, nih” tegur Nabila membuyarkan pikiran liarku tentang kak Rendi. “Sok tau. Pengen banget diperhatiin?” candaku. “Udahlah, aku tau, kok. Kamu suka sama kak Rendi, kan? Jujur sajalah, gerak gerikmu itu ngode banget kalau kamu suka sama dia” terang Nabila. “Masa, sih? Emang aku keliatan banget suka sama kak Rendi, ya?” tanyaku. “Anya kenaaaaaaaaa. Kamu beneran suka sama kak Rendi? Cieeeee ” ledek Nabila. “Ah, kamu. Iya, deh, aku ngaku aku suka sama kak Rendi dari pertama aku ketemu sama dia” jawabku dengan nada kesal.
            “Apaan, tuh, dikantin?” tanya Nabila. “Ihh, iya, rame banget, gimana jajannya rame begitu?” ujarku. “Sudahlah, aku lapeeeeerrr” balas Nabila. Aku dan Nabila berusaha menerobos keramaian di kantin demi rasa lapar dan penasaran kami.
            Setelah menerobos keramaian, aku terkejut dan hanya dapat membelalakkan mataku tanpa berkata. Mulutku seolah terkunci, tanganku seolah terikat, kakiku seolah disangkutkan dengan besi yang begitu berat. “Anya, kita balik aja, aku udah ngga laper” ujar Nabila sambil menarik tanganku erat.
            “Aku ngga nyangka, Nab. Dia sama sekali ngga cerita tentang ini ke aku. Aku bener-bener ngga percaya, Nab. Aku tuh harusnya ng…”. “Anya, kamu ngga perlu nyesel. Aku ngerti apa yang kamu rasain. Mungkin kak Rendi memang lebih baik jadi sahabatmu. Ngga ada yang perlu disesalin” ujar Nabila memotong perkataanku.
            Hari itu, kak Rendi menyatakan perasaannya kepada kak Ririn, teman sekelasnya. Kak Rendi adalah cinta pertamaku di SMA. Tapi mengapa begitu menyakitkan? Mengapa begitu menguras emosi? Mengapa tidak seperti yang ku harapkan? Tapi.. Untuk apa aku menyesali semua ini? Semua sudah terjadi.
            “Anya, aku tadi nyatain perasaan aku ke Ririn. Dan ia juga  ngerasain hal yang sama kayak aku. Rasanya aku beruntung banget” ujar kak Rendi kepadaku setelah pulang sekolah. “Selamat, ya, Kak. Aku ikut senang” balasku. Meskipun sebenarnya bukan itu yang aku rasakan.
            Semenjak saat itu, kak Ririn selalu menemani kak Rendi menemuiku setelah pulang sekolah, saat pulang ekskul, dan saat ia bercerita denganku. Sulit untukku menyadari apa yang telah terjadi.
            Namun, seiring berjalannya waktu, aku mulai melepaskan ketergantunganku pada kak Rendi. Aku mulai melupakan rasa sedihku yang berawal satu tahun yang lalu. Dan aku sudah di kelas XI. Rasanya, banyak hal yang jauh lebih penting daripada kesedihanku. Dan aku memilih untuk tidak memikirkan hal lain selain urusan pendidikanku.
“Aku udah ngga sama Ririn lagi. Dia ngga ngejaga kepercayaan aku. Lagipula aku mau fokus dulu ke UN, aku udah kelas XII” ujar kak Rendi saat  setelah pulang sekolah, seperti biasa. “Serius? Semangat, ya, buat UN nya, Kak” ujarku dengan ceria.
            Waktu terus berjalan. Kak Rendi telah melewati masa ujian akhir nya. Jujur saja, rasaku pada kak Rendi muncul kembali. Ditambah, aku merupakan satu-satunya perempuan yang dekat dengannya setelah ia putus dengan kak Ririn.
            Rasa itu benar-benar kembali. Dan.. sepertinya kali ini berbeda.
            “Anya, makasi, ya. Kamu selalu nyemangatin aku, kamu selalu dengerin cerita-cerita aku. Dan.. jujur.. kamu bikin aku ngelupain Ririn. Makasi, ya. Hmm… sebenernya… aku… suka sama kamu…” ucap kak Rendi yang diikuti dengan tatapan melototku ke arahnya.
            “Hah??? Kakak ngga salah ngomong, kan?? Kakak ngga lagi main truth or dare kan??” tanyaku memastikan. “Enggaklahh” jawabnya memastikan. “Aku.. aku juga sebenernya.. suka sama Kakak. Tapi.. aku.. aku takut. Aku.. takut.. takutnya.. kakak.. nggak suka sama aku” balasku terbata sambil melihat situasi kantin.
            “Aku tidak percaya ini terjadi. Tuhan memang adil. Semua yang indah butuh perjuangan dan penantian. AKU SANGAT SENANG HARI INI” gumamku dalam hati setelah pulang sekolah.



            Anya, aku ke Anyer dua hari lagi, jgn kangen, ya! Nanti aku bawain oleh2 buat kamu. Oleh2nya capek tapi, ya. Hahaha
            Kalimat dilayar ponselku yang membuatku tersenyum lebar.           
Dua hari berlalu.
            Aku udh di bis 6, nih. Doain, ya, biar slmt smpai tujuan
            Selamat sampai tujuan, ya, Kak. Slmt seneng2 sm tmn2
            Sekolah diliburkan karena perpisahan kelas XII. Membosankan. Tidak bertemu dengannya. Dia sedang bersama teman-temannya. Huffth…
Saat acara perpisahan berakhir…
            Kak, udh berangkat blm bisnya? Bilangin supirnya suruh hati hati, Kak
            Ini udh di jln. Iya, Anya yang lebay. Anya, aku beliin kamu kaos, smga kmu suka. Aku pilihin yg plg bgus pokoknya, liat aja nnti, ya. Aku kangen sm kmu, pengen ketemu, hahaha
            Ohya? Makasiii banyaak Kak Rendi yg baik hati, tdk pelit, dan tdk smbong. Aku jg pengen ketemuuu
            Kak Rendi tidak membalas pesanku yang terakhir itu. Mungkin dia tertidur. Percakapanku dengan kak Rendi terasa begitu spesial sore itu.
            Lusa, tidak ada kegiatan belajar disekolah. Namun.. aku melihat para murid mengerumuni papan pengumuman dengan ekspresi muka yang tidak wajar. Sontak, aku langsung menuju kerumunan itu.
            Aku tidak mampu membendung air mataku saat melihat papan itu. Raga dan jiwaku seolah tidak bersatu lagi. Tulisan itu merenggut seluruh kebahagiaanku sebelum berangkat sekolah. Rasa rindu ingin bertemu, sepertinya tidak akan terbayar.
              Innalillahi wainnailaihi rajiun. Kami turut berduka atas kecelakaan bis 6 yang merenggut seluruh nyawa penumpangnya. Semoga seluruh korban diterima disisi-Nya. Kami mencintai kalian semua.
              “Innalillahi wainnailaihi rajiun. Kak Rendi. Kak…” ucapku terbata.
 Semua tinggallah kenangan. Semua telah sirna. Disaat aku baru memasuki kehidupannya. Disaat semua baru terjadi. Disaat bahagia mendatangiku sesaat, aku harus melepasnya pergi. Selamanya..
Selamat jalan, Kak.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar