Commercial Break :)
Sesaat
“Anya,
bangun! Sudah jam 05.00! Nanti kamu kesiangan. Ayo, bangunlah!”. “Iya, Mama,
Anya bangun”. “Yasudah, cepat mandi, lalu sarapan. Cepat, ya!”
Namaku Anya Anindya Anggraini. Hari
ini adalah hari pertamaku sebagai siswa Sekolah Menengah Akhir, wajar jika mama
membangunkanku dengan penuh semangat.
Setelah sarapan, aku diantar ayah ke
sekolah baruku. Selama perjalanan, aku berdoa agar aku dapat cepat menyesuaikan
diri dengan lingkungan baru. Hmmh.. tak mudah bagiku menyesuaikan diri dengan
lingkungan baru. Aku sulit sekali peka akan sesuatu dan jarang memperhatikan
apa yang terjadi di lingkungan sekitarku.
Sesampainya di sekolah…
“Hati-hati,
ya, Anya. Nanti kalau pulang, langsung telepon mama, ya”. “Iya, Ayah. Aku masuk
dulu, ya, Yah. Assalamualaikum” salamku pada Ayah. “Bismillahirrahmanirrahim..”
ujarku dalam hati saat berjalan di pinggir lapangan, menuju ruang kelas.
“Aduuuuuuuuhhh” teriakku saat sebuah
bola menyambarku. “Maaf maaf maaf, ya, maaf, saya ngga sengaja. Perlu ke UKS?”
ujar seorang laki-laki dengan cemas. “Iya, Kak, ngga papa. Ngga perlu, kak.
Makasi” balasku sembari berdiri melanjutkan langkah menuju kelasku.
Sesampainya di kelas...
“Aku disini, ya?” tanyaku menunjuk
bangku yang kosong di deret kedua baris pertama setelah pintu masuk. “Tentu,
silahkan”. “Siapa namamu?” tanyaku. “Nabila, namamu?”. “Namaku Anya” jawabku.
Saat istirahat, aku dan Nabila
langsung menuju kantin. “Kamu yang tadi kena bola, ya?” tanya laki-laki yang
menyambarku dengan tendangannya tadi. “Iya, kak, masih inget aja” ujarku sambil tertawa kecil. “Saya minta
maaf, ya, ngga sengaja tadi, serius, deh”. “Iya, kak, ngga papa kok” jawabku.
“Nama kamu siapa?” tanyanya lagi. “Nama saya Anya. Kakak ?”. “Nama saya Rendi”.
“Saya jajan dulu, ya, Kak” ucapku. “Oh, iya, laper, ya?” candanya. “Tau aja,
Kak” ujarku sambil tertawa.
Esoknya, pemilihan ekskul untuk seluruh siswa baru. Sejak awal, aku
sudah berencana mengikuti kegiatan rohani islam di sekolahku.
Kegiatan ROHIS atau Rohani Islam di
sekolahku bertempat di masjid sekolah. Kebetulan, Nabila juga ingin mengikuti
kegiatan Rohani Islam. Aku dan Nabila langsung menuju masjid untuk mengikuti
kegiatan ekskul. Kegiatan ekskul dibuka dengan perkenalan.
“Saya Anya Anindya Anggraini. Saya
dari kelas X.1. Saya memilih ekskul ini karena… ”. “Assalamualaikum, maaf saya
telat” ucap seseorang memotong perkenalanku. Aku terkejut saat melihatnya. Ya,
yang memotong pembicaraanku itu kak Rendi. Kemudian, aku melanjutkan
perkenalanku setelah kak Rendi masuk.
Kegiatan berlangsung 2 jam.
“Ternyata Kak Rendi ekskulnya ROHIS” ujarku saat memakai sepatu berhadapan
dengan Kak Rendi di depan masjid. “Iya. Kita ketemu terus, ya. Sampai bosan
melihat kamu” canda Kak Rendi sambil tertririn. “Oh, iya, Kakak kelas berapa ?”
tanyaku. “Saya kelas XI. 7” jawab Kak Rendi dengan singkat.
Semenjak saat itu, aku dan Kak Rendi
menjadi sahabat karib. Semua kejadian yang terjadi pada Kak Rendi, aku pasti
mengetahuinya. Begitupun sebaliknya. Hari – hariku diwarnai dengan curhatan lucu
kak Rendi. Kak Rendi sangatlah humoris, namun orang yang belum mengenalnya
dengan baik pasti akan mengira kalau ia cuek, dingin, dan pendiam.
Hari demi hari kulalui sebagai siswa
SMA. Hari demi hari pula aku jalani bersama sahabat – sahabatku, termasuk Kak Rendi.
Sebenarnya, aku merasakan hal berbeda ketika berada di dekat Kak Rendi. Aku
senang menjadi sahabatnya, namun ada rasa lain. Rasa yang belum pernah aku
rasakan. “Sepertinya aku menyukai kak Rendi. Tapi… Apakah ia merasakan hal yang
sama padaku? Bagaimana kalau tidak? Mengapa ia sangat perhatian padaku? Mengapa
sejak awal kita bertemu, ia sudah sangat ramah padaku? Padahal ia sangat cuek
pada orang yang belum mengenalnya dengan baik…” gumamku dalam hati saat menuju kantin
bersama Nabila.
“Jangan mikirin kak Rendi terus,
dong. Aku dicuekin dari tadi, nih” tegur Nabila membuyarkan pikiran liarku tentang
kak Rendi. “Sok tau. Pengen banget diperhatiin?” candaku. “Udahlah, aku tau,
kok. Kamu suka sama kak Rendi, kan? Jujur sajalah, gerak gerikmu itu ngode banget kalau kamu suka sama dia”
terang Nabila. “Masa, sih? Emang aku keliatan banget suka sama kak Rendi, ya?”
tanyaku. “Anya kenaaaaaaaaa. Kamu beneran suka sama kak Rendi? Cieeeee ” ledek
Nabila. “Ah, kamu. Iya, deh, aku ngaku aku suka sama kak Rendi dari pertama aku
ketemu sama dia” jawabku dengan nada kesal.
“Apaan, tuh, dikantin?” tanya
Nabila. “Ihh, iya, rame banget, gimana jajannya rame begitu?” ujarku.
“Sudahlah, aku lapeeeeerrr” balas Nabila. Aku dan Nabila berusaha menerobos
keramaian di kantin demi rasa lapar dan penasaran kami.
Setelah menerobos keramaian, aku
terkejut dan hanya dapat membelalakkan mataku tanpa berkata. Mulutku seolah
terkunci, tanganku seolah terikat, kakiku seolah disangkutkan dengan besi yang
begitu berat. “Anya, kita balik aja, aku udah ngga laper” ujar Nabila sambil
menarik tanganku erat.
“Aku ngga nyangka, Nab. Dia sama
sekali ngga cerita tentang ini ke aku. Aku bener-bener ngga percaya, Nab. Aku
tuh harusnya ng…”. “Anya, kamu ngga perlu nyesel. Aku ngerti apa yang kamu
rasain. Mungkin kak Rendi memang lebih baik jadi sahabatmu. Ngga ada yang perlu
disesalin” ujar Nabila memotong perkataanku.
Hari itu, kak Rendi menyatakan
perasaannya kepada kak Ririn, teman sekelasnya. Kak Rendi adalah cinta
pertamaku di SMA. Tapi mengapa begitu menyakitkan? Mengapa begitu menguras emosi?
Mengapa tidak seperti yang ku harapkan? Tapi.. Untuk apa aku menyesali semua
ini? Semua sudah terjadi.
“Anya, aku tadi nyatain perasaan aku
ke Ririn. Dan ia juga ngerasain hal yang
sama kayak aku. Rasanya aku beruntung banget” ujar kak Rendi kepadaku setelah
pulang sekolah. “Selamat, ya, Kak. Aku ikut senang” balasku. Meskipun
sebenarnya bukan itu yang aku rasakan.
Semenjak saat itu, kak Ririn selalu
menemani kak Rendi menemuiku setelah pulang sekolah, saat pulang ekskul, dan
saat ia bercerita denganku. Sulit untukku menyadari apa yang telah terjadi.
Namun, seiring berjalannya waktu,
aku mulai melepaskan ketergantunganku pada kak Rendi. Aku mulai melupakan rasa
sedihku yang berawal satu tahun yang lalu. Dan aku sudah di kelas XI. Rasanya, banyak
hal yang jauh lebih penting daripada kesedihanku. Dan aku memilih untuk tidak
memikirkan hal lain selain urusan pendidikanku.
“Aku
udah ngga sama Ririn lagi. Dia ngga ngejaga kepercayaan aku. Lagipula aku mau
fokus dulu ke UN, aku udah kelas XII” ujar kak Rendi saat setelah pulang sekolah, seperti biasa.
“Serius? Semangat, ya, buat UN nya, Kak” ujarku dengan ceria.
Waktu terus berjalan. Kak Rendi telah
melewati masa ujian akhir nya. Jujur saja, rasaku pada kak Rendi muncul
kembali. Ditambah, aku merupakan satu-satunya perempuan yang dekat dengannya
setelah ia putus dengan kak Ririn.
Rasa itu benar-benar kembali. Dan..
sepertinya kali ini berbeda.
“Anya, makasi, ya. Kamu selalu
nyemangatin aku, kamu selalu dengerin cerita-cerita aku. Dan.. jujur.. kamu
bikin aku ngelupain Ririn. Makasi, ya. Hmm… sebenernya… aku… suka sama kamu…”
ucap kak Rendi yang diikuti dengan tatapan melototku ke arahnya.
“Hah??? Kakak ngga salah ngomong,
kan?? Kakak ngga lagi main truth or dare
kan??” tanyaku memastikan. “Enggaklahh” jawabnya memastikan. “Aku.. aku juga
sebenernya.. suka sama Kakak. Tapi.. aku.. aku takut. Aku.. takut.. takutnya..
kakak.. nggak suka sama aku” balasku terbata sambil melihat situasi kantin.
“Aku tidak percaya ini terjadi.
Tuhan memang adil. Semua yang indah butuh perjuangan dan penantian. AKU SANGAT
SENANG HARI INI” gumamku dalam hati setelah pulang sekolah.
Anya,
aku ke Anyer dua hari lagi, jgn kangen, ya! Nanti aku bawain oleh2 buat kamu.
Oleh2nya capek tapi, ya. Hahaha
Kalimat dilayar ponselku yang
membuatku tersenyum lebar.
Dua
hari berlalu.
Aku
udh di bis 6, nih. Doain, ya, biar slmt smpai tujuan
Selamat
sampai tujuan, ya, Kak. Slmt seneng2 sm tmn2
Sekolah diliburkan karena perpisahan
kelas XII. Membosankan. Tidak bertemu dengannya. Dia sedang bersama
teman-temannya. Huffth…
Saat
acara perpisahan berakhir…
Kak,
udh berangkat blm bisnya? Bilangin supirnya suruh hati hati, Kak
Ini
udh di jln. Iya, Anya yang lebay. Anya, aku beliin kamu kaos, smga kmu suka.
Aku pilihin yg plg bgus pokoknya, liat aja nnti, ya. Aku kangen sm kmu, pengen
ketemu, hahaha
Ohya?
Makasiii banyaak Kak Rendi yg baik hati, tdk pelit, dan tdk smbong. Aku jg
pengen ketemuuu
Kak
Rendi tidak membalas pesanku yang terakhir itu. Mungkin dia tertidur. Percakapanku
dengan kak Rendi terasa begitu spesial sore itu.
Lusa, tidak ada kegiatan belajar
disekolah. Namun.. aku melihat para murid mengerumuni papan pengumuman dengan
ekspresi muka yang tidak wajar. Sontak, aku langsung menuju kerumunan itu.
Aku tidak mampu membendung air
mataku saat melihat papan itu. Raga dan jiwaku seolah tidak bersatu lagi.
Tulisan itu merenggut seluruh kebahagiaanku sebelum berangkat sekolah. Rasa
rindu ingin bertemu, sepertinya tidak akan terbayar.
Innalillahi wainnailaihi rajiun. Kami turut
berduka atas kecelakaan bis 6 yang merenggut seluruh nyawa penumpangnya. Semoga
seluruh korban diterima disisi-Nya. Kami mencintai kalian semua.
“Innalillahi wainnailaihi rajiun.
Kak Rendi. Kak…” ucapku terbata.
Semua tinggallah kenangan. Semua telah sirna.
Disaat aku baru memasuki kehidupannya. Disaat semua baru terjadi. Disaat bahagia
mendatangiku sesaat, aku harus melepasnya pergi. Selamanya..
Selamat
jalan, Kak.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar